Dari Kekalahan 0-12 ke Forum PBB, Peserta UniLeague Bawa Cerita Pemuda Indonesia ke Panggung Dunia
NEW YORK – Kekalahan dengan skor 0-12 tidak menghentikan langkah Elyas Aryo Saputro. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjadi peserta UniLeague itu justru membawa pengalaman tersebut hingga ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.
Di hadapan peserta forum internasional One World, One Game, One Goal: Football for Youth Mental Health and Well-being, Elyas menceritakan bagaimana sepak bola, dukungan rekan setim, dan pengalaman bermain di UniLeague membentuk pandangannya mengenai kesehatan mental.
Forum tersebut diselenggarakan oleh United Nations Youth Office pada Jumat (17/7/2026) waktu setempat atau Sabtu (18/7/2026) pagi WIB.
Kehadiran Elyas di forum PBB menjadi salah satu pencapaian penting bagi ekosistem UniLeague yang turut dibangun dan diperkuat melalui komunikasi serta publikasi Cuwitan Digital. Perjalanannya menunjukkan bahwa kompetisi sepak bola antarmahasiswa tidak hanya menghasilkan cerita dari dalam lapangan, tetapi juga membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk menyampaikan gagasannya di tingkat global.
Elyas mengawali kisahnya dengan menceritakan pengalaman saat membela tim kampus di UniLeague. Timnya sempat mengalami kekalahan telak 0-12, hasil yang kemudian menjadi perhatian dan perbincangan di Indonesia.
“Sebelum datang ke sini, saya bermain di UniLeague dan tim saya kalah 0-12. Kekalahan itu menjadi viral di negara saya. Bahkan sebelumnya, tim kampus kami juga kalah dalam delapan dari sembilan pertandingan,” ujar Elyas.
Meski hasil pertandingan jauh dari harapan, dukungan dari rekan-rekan satu tim membuat Elyas tetap percaya diri dan tidak menyerah. Pengalaman tersebut membuka pandangannya bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam perjalanan seorang mahasiswa maupun atlet.
Kekalahan tidak lagi dilihat hanya sebagai hasil buruk, tetapi sebagai bagian dari proses untuk belajar, bangkit, dan saling menguatkan.
Menurut Elyas, setiap fase kehidupan membutuhkan bentuk dukungan yang berbeda. Di lingkungan kampus, mahasiswa dapat saling membantu melalui komunikasi terbuka, memberikan semangat, dan belajar memimpin satu sama lain.
Sementara itu, bagi anak-anak dan remaja, peran pelatih, orang tua, serta guru menjadi fondasi penting dalam membangun keberanian dan rasa percaya diri.
“Mereka membutuhkan lingkungan yang aman, tempat di mana melakukan kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti,” kata Elyas.
Nilai-nilai yang diperolehnya melalui sepak bola kemudian dibawa kembali ke kampung halamannya. Elyas mendirikan akademi sepak bola akar rumput yang tidak hanya mengajarkan teknik bermain, tetapi juga menanamkan disiplin, kepercayaan diri, persahabatan, dan kepedulian antarsesama.
Bersama masyarakat di desanya, Elyas turut mengembangkan kegiatan sepak bola yang inklusif bagi anak laki-laki maupun perempuan. Sepak bola dimanfaatkan sebagai ruang untuk membangun relasi, memperkuat persatuan, dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak muda.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat UniLeague Play for Peace, yang menempatkan sepak bola sebagai pintu masuk untuk menghadirkan dampak sosial yang lebih luas.
“Tujuan kami bukan sekadar bermain sepak bola, tetapi menciptakan ruang di mana setiap anak muda merasa aman, didukung, dan dihargai, baik di dalam maupun di luar lapangan,” tutur Elyas.
Bagi Cuwitan Digital, perjalanan Elyas memperlihatkan bahwa cerita dari kompetisi sepak bola kampus dapat berkembang menjadi pesan yang relevan bagi masyarakat dunia. Pengalaman di dalam lapangan, termasuk kekalahan, tekanan, dan dukungan dari rekan satu tim, dapat menjadi bagian penting dari kampanye kesehatan mental generasi muda.
Melalui produksi konten, dokumentasi, dan distribusi cerita UniLeague, Cuwitan Digital terus berupaya memperluas pesan bahwa sepak bola tidak hanya berbicara tentang kemenangan dan skor akhir. Sepak bola juga dapat menjadi sarana membangun keberanian, empati, dan ruang yang aman bagi generasi muda.
Kehadiran Elyas di Markas Besar PBB sekaligus menjadi bukti bahwa dampak UniLeague dapat bergerak melampaui pertandingan. Dari lapangan sepak bola kampus, sebuah pengalaman sederhana dapat tumbuh menjadi cerita yang mewakili suara pemuda Indonesia di panggung dunia.